Minggu, 22 Agustus 2021

“Islam Madani” Versus “Islam Medeni”

Kontestasi "Islam Madani" versus "Islam Medeni"
By Sumanto al Qurtuby

Upaya Mengatisipasi Radikalisme Di Indonesia - Suaradewata.com

"Islam madani" versus "Islam medeni": Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Simak pasang surutnya di peta politik Indonesia dalam kolom Sumanto al Qurtuby.

Belum lama ini saya memberi kuliah umum secara daring di Program Studi Islam Madani (Falsafah dan Agama), Universitas Paramadina, tentang kontestasi antara kelompok "Islam madani" versus "Islam medeni" di Indonesia dan Arab Saudi.

Yang dimaksud "Islam madani" di sini kurang lebih adalah jenis keislaman yang bercorak moderat,toleran, inklusif, dan pro-kebhinekaan serta menjunjung tinggi keadaban dan tradisi berpikir kritis-akademis dalam memahami wacana keagamaan, keislaman, dan sosial-

kemasyarakatan. Inilah jenis keislaman yang diidealkan, diperjuangkan, sekaligus ingin diwujudkan di Indonesia oleh almarhum Profesor Nurcholish Madjid (Cak Nur), pendiri Universitas Paramadina. Nama "paramadina" sendiri mengandaikan "Islam madani" itu yang diinspirasi oleh penggantian nama Yatsrib menjadi Madinah oleh Nabi Muhammad.

Sementara itu, yang dimaksud "Islam medeni" di sini kira-kira adalah jenis keislaman yang bercorak radikal-ektremis, eksklusif, intoleran, anti-keragaman, suka bertindak atau mendahulukan kekerasan (radikalisme) dalam menyelesaikan masalah sosial-keagamaan serta minus pikiran kritis-akademis dalam memahami dan menafsirkan teks dan wacana keislaman dan keagamaan.

Kata "medeni" di sini diambil dari bahasa Jawa yang berarti "menakutkan" karena memang tampilan mereka yang menakutkan masyarakat luas lantaran suka main kasar, "ngamukan" dan hobi berbuat onar di masyarakat.

Ekspresi atau tampilan kedua kelompok ini di masyarakat tidak sama. Misalnya, kelompok "Islam medeni" itu bervariasi ekspresinya. Ada yang "ultraekstrem" dan mematikan seperti kelompok teroris yang suka ngebom di tempat-tempat umum: tempat ibadah, hotel, restauran, café, kantor polisi dlsb.

Ada yang suka melakukan aksi-aksi vigilantisme atau persekusi seperti menggeruduk umat agama, sekte, atau kelompok Islam lain yang tidak sepaham atau sehaluan dengan mereka. Ada pula yang suka melakukan "kekerasan verbal" melalui perkataan atau ucapan seperti ujaran kebencian (hate speech), provokasi, dan pernyataan intoleransi terhadap kelompok lain.

Kelompok "Islam madani" pun demikian. Ada yang sebatas "moderat" dan "toleran", baik dalam perkataan maupun tindakan. Ada pula yang tingkatannya lebih tinggi sedikit, yaitu sikap "pluralis" (atau mereka yang berpegang pada prinsip pluralisme) yang bukan hanya sebatas bersikap moderat dan toleran terhadap umat agama lain tetapi juga diiringi dengan tindakan "deep engagement and dialogue", baik melalui tindakan pergumulan fisik (bahasa Jawa: "srawung") maupun dengan mempelajari serta keinginan kuat untuk mengetahui dan menggali lebih jauh aneka ragam praktik keagamaan umat lain.

Aneka ragam kelompok

Penting untuk diketahui bahwa baik kelompok "Islam madani" maupun kelompok "Islam medeni" bukanlah unik Indonesia. Hampir di setiap negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim, memiliki kelompok ini. Bahkan di negara-negara di Eropa, Amerika Utara, atau Australia dlsb, kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" juga ada.

Tentu saja, "ekstremisme" dan "moderatisme" bukan hanya monopoli umat Islam. Umat agama lain pun memiliki kecenderungan yang sama: ada kelompok agama yang bercorak ekstrem di satu sisi, dan moderat di pihak lain.

Kedua kelompok ini saling berebut pengaruh di masyarakat untuk merebut "hati" umat Islam. Dalam sejarah Islam, fenomena ini bukanlah hal baru sebetulnya. Sudah sejak masa awal formasi Islam di abad ke-7 M, kontestasi antara kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" ini sudah ada yang kemudian kelak menjadi aneka ragam mazhab, aliran, sekte, atau kelompok keislaman.

Dalam konteks Islam, perseteruan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad (w. 632 M) menyebabkan umat Islam terbelah menjadi aneka ragam kelompok sektarian dengan beragam ekspresi sosial-kepolitikan dan keislaman.

Ada kelompok yang "pasrah" serta mengedepankan "quietism" dan "apolitis" seperti Murji'ah tetapi ada pula kelompok yang sangat ekstrem dan frontal melakukan tindakan kekerasan bahkan dengan melancarkan serangkaian aksi pembunuhan sistematis pada para tokoh dan sekelompok Muslim yang berseberangan dengan mereka seperti yang dilakukan oleh kaum Khawarij.  

Dari dulu hingga kini, mereka sama-sama mengembangkan strategi, mekanisme, cara, dan taktik tertentu dalam berdakwah, "berjuang", bersosialisasi, dan bermasyarakat agar mendapat simpati publikMuslim dan banyak pengikut.

Bedanya, kelompok "Islam medeni" tidak sungkan-sungkan menggunakan pendekatan kekerasan (fisik maupun verbal) sedangkan kelompok "Islam madani" tidak menyukai kekerasan fisik tetapi lebih menyukai atau mengedepankan "perang pemikiran" (battle of thought).

Mereka juga sama-sama menggunakan legitimasi atau justifikasi teks-teks keislaman yang diambil dari Al-Qur'an, Hadis, atau dalam konteks kontemporer ditambah kitab-kitab atau pendapat (aqwal) para ulama panutan mereka, baik yang klasik maupun modern, guna mendukung dan memperkuat pendapat, pemikiran, dan praktik keagamaan yang mereka lakukan.

Pula, khususnya dalam konteks kontemporer seiring dengan perkembangan teknologi, mereka menggunakan beragam media (cetak, visual, audio-visual, online atau melalui perkumpulan dan pengajian rutin) dan aneka institusi (masjid, madrasah, ormas, Islamic center dlsb) untuk menyebarluaskan ide-ide mereka. Dulu, perseteruan dilakukan melalui masjid atau forum-forum pertemuan publik saja.

Menjalin patronase dengan kekuasaan

Dalam sejarahnya dan bahkan hingga kini, baik kelompok "Islam madani" maupun "Islam medeni" sama-sama berusaha menjalin patronase dengan kekuasaan (rezim politik) untuk melanggengkan gagasan dan visi-misi mereka di masyarakat. Hal itu bisa dimaklumi karena kekuasaan politiklah yang mempunyai atau memegang otoritas dan akses terhadap sumber-sumber ekonomi, finansial, dan kepolitikan.

Dalam upaya untuk berpatron dengan kekuasaan ini, ada kalanya kelompok "Islam madani" yang berhasil dan kemudian ikut mengontrol produksi wacana keislaman tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang berhasil "berbulan madu" atau bersinergi dengan kekuasaan yang kemudian "membabat" habis rival-rival politik dan agama mereka. Misalnya, kelompok Sahwa di Arab Saudi untuk contoh "Islam medeni" di awal 1980an tetapi sejak beberapa tahun terakhir, kelompok "Islam madani" yang berpatron dengan pemerintah.

Tetapi ada pula yang kemudian berubah, mengalami transformasi atau menjelma dari kelompok agama menjadi kelompok politik karena sukses mengontrol teritori negara. Contohnya, untuk kasus "Islam medeni", adalah fenomena kaum Taliban di Afghanistan pada pertengahan 1990an atau kelompok "Revolusi Islam" di Iran pada akhir 1970an.

Kalau melihat data-data sejarah dari dulu hingga kini, kelompok "Islam madani" yang lebih banyak "diatas angin" dalam pengertian sukses menjalin koalisi dengan otoritas politik. Meskipun di beberapa negara yang mayoritas berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika (sebut saja Mesir, Lebanon, Palestina, Sudan, Aljazair, Iran, atau Yaman) kontestasi kedua kelompok cukup dinamis dan fluktuatif dari waktu ke waktu dalam hal perebutan akses kekuasaan politik-pemerintahan.

Ada kalanya kelompok "Islam madani" yang unggul tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang sukses.

Siapa yang menang?

Dalam konteks Indonesia, kontestasi kedua kelompok selalu dimenangkan oleh "Islam madani", meskipun sudah sejak awal kemerdekaan kelompok "Islam medeni" berusaha merebut, mengontrol, dan mendominasi kekuasan dan negara seperti yang dilakukan oleh para pendukung Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (didirikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pada tahun 1949)

Baik Sukarno maupun Suharto sama-sama antikelompok "Islam medeni", meskipun di akhir-akhir kekuasaan Pak Harto ia menjalin "kongkalikong" dengan kelompok "Islam medeni" untuk mengimbangi atau membendung gerakan "Islam madani" yang mulai berani mengkritik kekuasan, pemerintah, dan Pak Harto.

Setelah Pak Harto tumbang, kelompok "Islam medeni" mendapatkan "angin surga". Mereka terus berusaha menggelembungkan diri dengan berbagai cara, misalnya memperbanyak ormas, membuat sekolah, atau secara terbuka berceramah. Jadi, demokrasi adalah "berkah" buat kelompok karena demokrasilah mereka bisa berkembang biak. Ironisnya, mereka sering mengkritik demokrasi karena dianggap produk sekuler-Barat yang tidak Islami.

Kelompok "Islam medeni" juga terus berusaha mempengaruhi para pemangku kebijakan (pemerintah atau politisi) untuk memuluskan jalan bagi pembuatan berbagai peraturan hukum (Perda, Pergub, Surat Edaran, dlsb) yang diambil dari aturan hukum Islam tertentu.

Meskipun demikian, hingga kini, kelompok "Islam medeni" ini belum berhasil menguasai kekuasaan politik-pemerintahan. Nasib mereka semakin tersungkur karena Presiden Joko Widodo dan jajarannya mulai gencar membungkam kelompok ini serta memangkas jaringan dan sel-sel mereka. Itu belum lagi ditambah gerakan masif-intensif yang dilakukan oleh para eksponen "Islam madani" seperti Nahdlatul Ulama yang gencar "memerangi" pemikiran dan gagasan "Islam medeni".

Bagaimana "nasib" kelompok "Islam medeni" ini ke depan? Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Waktu nanti yang akan menjawabnya.
 
Sumanto Al Qurtuby adalah Direktur Nusantara Institute; dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi; Visiting Senior Scholar di National University of Singapore, dan kontributor di Middle East Institute, Washington, D.C

Sabtu, 21 Agustus 2021

Bersumber dari Pendangkalan

Bersumber dari Pendangkalan
by KH. Abdurrahman Wahid

Gus Dur Gitu Aja Kok Repot - Home | Facebook

Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah "bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a'la al-kuffar ruhama baynahum).

Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata "kafir" atau "kuffar" adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani mengemukakan hal itu?

Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskrimanatif. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.

Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, "taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan" (Athi u' allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan— mengikuti perintah tersebut. Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis mengaggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, dipertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.

Tindak kekerasan –walaupun atas nama agama— dinyatakan oleh siapapun dan dimana pun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penuli dan Rabai yang menyatakan "berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa".

Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudh untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudh meminta kata-kata "tidak berdosa" diubah menjadi "tidak bersalah".

Mengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia –bahkan menurut statistic sebagai organisasi Islam terbesar di dunia- menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai "tindak kejahatan/ kriminal" yang harus dihukum.

Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bima qa shidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi. Menurutnya, "hokum barat" dapat dijadikan "hukum Islam", jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hokum pidana barat, karena sama berfungsi dan bertujuan menahan (defences) dan menghukum (punishment).

Namun, mengapa terorisme dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut , jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.

Apa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci Al Quran dan ajaran nabi Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.

Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap langkah-langkah yang salah, atau mencari "responsi yang benar" atas tantangan berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah "agama kedamaian" bukannya "agama kekerasan". Proses sejarah Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan –atas nama Islam— yang tidak diharapkan. Mudah dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan?

Jakarta, 31 Desember 2002

Jumat, 13 Agustus 2021

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Mencla-Mencle Soal di Jatim Sudah Ada Herd Immunity, Seknas Jokowi: Khofifah Otoriter dan Tidak Mau Dapat Saran Dari Masyarakat

Anies dan Khofifah Hadiri Kongres Partai Nasdem, Apa Maknanya?

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dinilai mejadi kelihatan otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi Jatim pada Jumat (13/8/2021), menanggapi polemik yang muncul akibat perilaku Khofifah dalam menangani pandemi covid-19. Dimana sebelumnya Khofifah menyatakan bahwa ada daerah di Jatim yakni Surabaya dan Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity atau kekebalan komunal.

Klaimnya yang dimuat dan viral di berbagai media itu tentu saja memicu kritik, saran dan masukan dari masyarakat agar sebagai Gubernur . Khofifah tidak sembarangan klaim bahwa sudah ada Herd Immunity di Jatim.  Karena jika sudah ada Herd immunity, tentunya tidak perlu lagi ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan dalih untuk mencegah meluasnya penularan covid-19.

Setelah panen kritik, tiba-tiba Khofifah menyangkal bahwa sebelumnya dia pernah menyatakan bahwa kota Mojokerto dan kota Surabaya sudah mencapai Herd Immunity.

Untuk itu entah ada faktor apa, ada media yang menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity" dan menggantinya dengan berita lain. Akan tetapi sebelum dihapus dan diganti dengan berita lain, sudah banyak masyarakat yang melakukan screenshoot atau tangkap layar atas berita tersebut, sehingga jejak digital tidak sempat terhapus/hilang.

Sedangkan beberapa media tidak mau menghapus pemberitaan "Khofifah Sebut Surabaya dan Mojokerto Sudah Herd Immunity", karena bisa jadi mereka memang mendengar pernyataan Khofifah seperti itu dan atau memiliki rekamannya.

" Dari rentetan ini, Khofifah terlihat otoriter, anti kritik dan tidak mau mendapat masukan dari masyarakat", kata Sapto Raharjanto, ketua DPW Seknas Jokowi Jatim.

Sebagaimana viral diberitakan, pada Jumat 6 Agustus 2021 Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa sebut Surabaya dan kota Mojokerto sudah mencapai Herd Immunity.

Dengan pernyataannya itu, Khofifah diingatkan oleh berbagai kalangan masyarakat, diantaranya oleh Deni Wicaksono, anggota Komisi E DPRD Jatim yang menbidangi kesehatan, agar hati-hati membuat narasi atau klaim adanya pencapaian herd immunity pada sejumlah daerah di Jatim.

Saran atau nasehat yang diberikan oleh Deni pada Sabtu 7 Agustus 2021 itu karena herd immunity baru terwujud ketika sebagian besar orang dalam kelompok sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi. Salah satu jalannya lewat vaksinasi. Konsensus ahli, sekitar 70 persen warga tervaksin, tapi dalam konteks Covid-19, itu tercapai ketika sudah lengkap dua dosis. Faktanya, tidak ada satu pun kabupaten/kota atau provinsi di Indonesia yang telah mencapai itu.

Deni menyebut pernyataan  Khofifah itu menjerumuskan karena berpotensi membuat masyarakat di daerah yang disebut Khofifah sudah herd immunity lengah terhadap Covid-19 yang masih mengganas.

Pernyataan Khofifah itu menurut Deni, juga juga berpotensi mengadu domba karena publik di daerah tersebut akan memprotes keras pemerintah kota atau kabupatennya, mengapa tetap ada pembatasan (PPKM) ketika herd immunity sudah diklaim oleh Gubernur Jatim

Begitu diingatkan atau diberi saran, entah ada apa sontak beberapa media menghapus berita yang berisi klaim Khofifah bahwa di Jatim sudah ada daerah yang mencapa herd immunity, akan tetapi beberapa media lain tidak mau menghapus pemberitaan tersebut.

Dan pada Senin 9 Agustus 2021, saat mengudara pada sebuah acara radio sebagaimana disiarkan https://www.instagram.com/p/CSWLCmlMCbw/ , Khofifah menyangkal bahwa dirinya pernah bilang bahwa Kota Mojokerto dan Surabaya sudah mencapai herd immunity.

Bantahan Khofifah pada siaran tersebut akhirnya menuai banyak kritik dari para pemirsa, diantaranya yang disuarakan oleh @umaralhakimhakim yang menyatakan "Alasane uakeh (alasannya buanyak), pemimpin yang baik itu sebelum melempar pernyataan harus disesuaikan dengan data dan realita".

Sedangkan @andik_rekkles berkomentar "Omonganmu mbulet koyo... (Bicaramu ruwet/ silang sengkarut seperti...)"

Malah ada yang sinis seperti @erryseptiawan yang menyindir "Ayo bu pesta ulang tahun maneh, mumpung PPKM belum ditutup (Ayo bu pesta ulang tahun lagi, mumpung PPKM belum ditutup)


Ketua Seknas Jokowi Jatim
Sapto Raharjanto
HP/WA: 082141751575

Selasa, 03 Agustus 2021

SELAMAT TAHUN BARU KȆJAWEN

SELAMAT TAHUN BARU KȆJAWEN

SEJARAH AKSARA JAWA (PART 04) - Website Kepek

Memadukan penanggalan Śaka Jawa yang mempergunakan peredaran matahari dan bulan sebagai basic perhitungan dengan penanggalan Hijriyah Islam yang mempergunakan peredaran bulan saja sebagai basic perhitungan, pada tahun 1555 Śaka Jawa, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma, Raja Mataram ke-3 yang memerintah pada 1613-1645 Masehi, mengesahkan adanya kalender baru bagi Tanah Jawa, yaitu Kalender Jawa atau Kalender Kêjawen. Perhitungan tahun tidak dimulai dari tahun 1, melainkan meneruskan perhitungan tahun Śaka Jawa yang sudah menginjak tahun 1555. Ini terjadi tepat pada tahun 1633 Masehi.

Sistem perhitungan rumit dan pelik Śaka Jawa hampir semua di adopsi namun kebanyakan sudah diubah namanya menjadi nama-nama Arab. Bahkan nama bulan pun juga mempergunakan nama-nama Arab. Paling kentara adalah penamaan nama hari yang semula mempergunakan nama Kawi diubah menjadi nama Arab.

1. Radite – Ahad (logat Jawa : Ngahad)
2. Soma – Itsnain (logat Jawa : Sênen)
3. Anggara – Tsalatsah (logat Jawa : Sêlasa)
4. Budha – Arba'ah (logat Jawa : Rêbo)
5. Rêspati – Khomsah (logat Jawa : Kêmis)
6. Sukra – Jama'ah (logat Jawa : Jumngat)
7. Tumpak – Sab'ah (logat Jawa : Sêbtu)

Nama-nama bulan pun juga diubah dari Kawi ke Arab.

1. Warana– Syura (logat Jawa : Sura)
2. Wadana– Shofar (logat Jawa : Sapar)
3. Wijangga– Rabi'ul Awwal/Maulid (logat Jawa : Mulud)
4. Wiyana– Rabi'ul Akhir/Ba'da Maulid (logat Jawa : Bakda Mulud)
5. Widada– Jumadil Awwal (logat Jawa : Jumadilawal)
6. Widarpa– Jumadil Akhir (logat Jawa : Jumadilakir)
7. Wilapa– Rojab (logat Jawa : Rêjêb)
8. Wahana– Arwah (logat Jawa : Ruwah)
9. Wanana– Ramadlan (logat Jawa : Ramêlan/Pasa)
10. Wurana– Syawal (logat Jawa : Sawal)
11. Wujana– Dzulqoidah (diganti Sêla)
12. Wujala– Dzulhijjah (diganti Bêsar)

Masih banyak nama-nama Kawi diganti menjadi nama Arab yang cenderung Islami, termasuk pembagian perhitungan waktu dalam Jawa semenjak jaman Buda yang dibagi menjadi 5 waktu dalam sehari semalam diganti menjadi :

1. Maheśwara diganti Ahmad (logat Jawa : Akmad)
2. Wiṣṇu diganti Jabarail
3. Brahmā diganti Ibrahim
4. Śrī diganti Yusuf(logat Jawa : Yusup)
5. Kāla diganti Izrail(logat Jawa : Ngijrail)

Pendek kata, Kangjêng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma ingin menunjukkan kepada dunia Islam, khususnya kepada Kekhalifahan Turki Utsmani yang merupakan pusat Kekhalifahan Islam pada waktu itu bahwa beliau benar-benar berkomitmen menyebarkan Islam di Tanah Jawa tidak hanya setengah-setengah. Karena upayanya tersebut, beliau mendapat gelar Sultan dari penguasa Ka'bah pada 1641 Masehi. Sebelumnya beliau hanya mempergunakan gelar Kangjêng Susuhunan Prabhu Anyakrakusuma. Kalender Jawa yang disahkan oleh beliau resmi menjadi kalender Jawa-Islam alias Kalender Kêjawen. Demikian kenyataan dan faktanya.

Pada awalnya ketika disahkan, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555, dimulai pada hari Jum'at Lêgi. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Jamngiyah (Jam'iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Ajugi, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Jum'at Lêgi.

Pada 1 Sura tahun Alip 1675, dimulai pada hari Kêmis Kliwon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Kamsiyah (Khamsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Amiswon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Kêmis Kliwon.

Pada 1 Sura tahun Alip 1795, dimulai pada hari Rêbo Wage. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba'iyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Aboge, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Rêbo Wage.

Pada 1 Sura tahun Alip 1915, dimulai pada hari Sêlasa Pon. Perhitungan ini mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) dan akan berlangsung selama 15 windu atau 120 tahun. Masyarakat Jawa menyebutnya Asapon, maksudnya adalah tahun Alip jatuh pada hari Sêlasa Pon.

Masa kita sekarang telah mempergunakan Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah). Ini berlaku semenjak 19 Oktober 1982 Masehi. Celakanya di pedesaan Jawa masih banyak yang tidak memahami pergantian Kurup (Huruf) ini sehingga mereka tetap mempergunakan perhitungan Kurup (Huruf) Arbangiyah (Arba'iyyah) atau Aboge. Hasilnya, semenjak tahun 1915 Jawa atau 1982 Masehi, tanggal 1 Sura di pedesaan akan maju satu hari. Menjadi kewajiban kita sebagai pemerhati budaya untuk meluruskan hal ini agar tidak berlarut-larut sehingga menyebabkan adanya kesalahan fatal dalam perhitungan hari karena kalender Jawa menyangkut dengan pemilihan hari baik dan buruk.

Sesuai Kurup (Huruf) Salasiyah (Tsalatsiyyah) atau Asapon, tahun baru Sura atau tanggal 1 Sura tahun Alip 1955 kali ini, jatuh pada hari Sêlasa Pon atau bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2021. Yang masih mempergunakan Aboge tahun baru Sura mempergunakan hari Rêbo Wage tanggal 11 Agustus 2021, dan perhitungan itu salah. Pelurusan perlu digalakkan.

Sugêng warsa enggal Kêjawen

Sêlasa Pon, 1 Sura 1955 Alip, Wuku Kulawu, Windu Sangara.

Mugi tansah pinaringan têguh rahayu slamêt tan ana baya-bayane, luput ing sambekala. Tansah satuhu rahayu. Sarwa hayu!

Senin, 02 Agustus 2021

Panglima TNI Bela Peran Bantuan TNI Polri Yang Diremehkan dan Disindir Khofifah

Panglima TNI Bela Peran Bantuan TNI Polri Yang Diremehkan dan Disindir Khofifah

Cek Protokol Kesehatan, Panglima TNI, Kapolri & Khofifah Tinjau Pasar Ini

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto membela peran TNI dan Polri yakni Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam membantu melakukan tracing atau pelacakan kontak erat pasien Covid-19 yang sebelumnya diremehkan dan disindir oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Hadi menyatakan bahwa rasio tracing di Jawa Timur 1:29 atau satu pasien positif Covid-19 sebanyak 29 dites swab PCR. Menurutnya, angka tersebut sudah sesuai standar Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Rasionya 1 banding 29, itu sudah masuk standar WHO loh Ibu Gubernur," kata Hadi kepada Forkopimda Jatim saat berdialog dengan tim tenaga kesehatan Mojokerto, Minggu (1/8/2021.

Hadi pun menguji kemampuan anggota Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam pengoperasian aplikasi Sistem Informasi Pelacakan (SiLacak) dan inaRISK, serta koordinasi 4 pilar, hingga bagaimana memperlakukan pasien Covid-19.

Koordinasi tersebut diuji dengan melakukan komunikasi melalui telepon antara Babinsa maupun Bhabinkamtibmas kepada pasien Covid-19 yang sedang melakukan isolasi mandiri untuk mengetahui perkembangan kesehatan secara berkala.

Dalam Kunjungan Panglima TNI ke Puskesmas Gayaman Mojokerto, Puskesmas Sukomoro Nganjuk, Puskesmas Balerejo Madiun, ia didampingi oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Kabaharkam Polri Komjen Arief Sulistyanto, Pangdam V Brawijaya Mayjend Suharyanto, Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta.

Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan pelaksanaan 3T serta penerapan aplikasi Silacak dan aplikasi inaRISK.

Untuk diketahui, bahwa sebelumnya pada Forum Guru Besar  Fakultas Kedokteran Airlangga, Jumat (30/7/2021) Khofifah terkesan meremehkan dan menyindir peran Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang membantu melakukan tracing atau pelacakan kontak erat pasien Covid-19

Itu disampaikan saat Khofifah mengakui tracing atau pelacakan kontak erat pasien positif Covid-19 di wilayahnya masih sangat rendah.

Dalam Forum itu, sebagaimana dilansir CNN, Khofifah mengaku menerima keluhan petugas tracing yang kesulitan mengoperasikan aplikasi Silacak, dimana program ini diluncurkan Kementerian Kesehatan untuk penguatan tracing.

Menurutnya, sejumlah petugas tracer, yang terdiri dari Babinsa TNI AD dan Bhabinkamtibmas Polri ternyata mengalami kendala saat melakukan entry data di aplikasi Silacak.

"Kalau sekarang yang diturunkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas ngapunten (mohon maaf) ini bukan bidangnya," kata Khofifah saat itu

Minggu, 01 Agustus 2021

Emil Dardak: Kasus Covid-19 di Jatim Melandai Tapi Masih Tinggi

Emil Dardak: Kasus Covid-19 di Jatim Melandai Tapi Masih Tinggi

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Rektor ITS Mochamad Ashari dan Ketua IKA ITS Wahid Wahyudi menyaksikan proses vaksinasi di Graha ITS pada Minggu (1/8/2021).

"Minimal kita sedang melihat melandainya kasus aktif meskipun grafik melandainya masih tinggi, Kita harus sangat hati-hati membuka kegiatan ekonomi jangan sampai melonjak lagi" tuturnya

Data tadi pagi yang saya dapat keterisian ICU 1.193 dari 1.479 ini ada ini 81% kemudian untuk tempat tidur isolasi 12.640 dari 17.879 jadi kurang lebih ada di 71% isolasi selanjutnya antrian IGD 380 tertinggi kota Malang 90 disusul Surabaya 76, kota Madiun 32" imbuhnya.

BOR dan IGD menunjukan tren penurunan dibeberapa daerah di Jawa Timur

"Terkait BOR untuk antrian di IGD berdasarkan data terbaru sudah turun dibawah 400an kita pernah menyentuh di 800an sekerang sudah turun, ada beberapa daerah seperti malang ini kok sudah nyalip Surabaya untuk jumlah antriannya padahal sudah ada RS Darurat yang okupansinya sudah mulai turun" tuturnya.

"Untuk ICU sendiri awal bisa menyentuh 20an untuk zona hitam hari ini ada dikisaran 15an, tolong jangan kita lupa ini bisa membaik karena kita membatasi aktivitas kita" Imbuhnya.

Mantan Bupati Trenggalek itu menjelaskan kondisi beberapa daerah

"Seperti Trenggalek yakni 19, ini  sebenarnya ngga banyak tetapi untuk ukuran Trenggalek ini sudah banyak ini  kami coba cek ke pak Bupati. Sebenarnya antrian IGD ini sudah turun dan BOR sudah turun" jelasnya

"Begitu juga dengan Malang kami tadi sudah kontak pak Walikota Malang untuk mengurai penumpukan di IGD, kita bisa identifikasi nanti apakah ini menumpuk di IGD RS tertentu sehingga tidak terdistribusi, sebenarnya bisa didistribusikan ke RS lain yang bisa merawat" tambahnya.

Prokes Covid 19 varian delta berbeda

"Prokes Covid 19 yang lalu unutk adaptasi kebiasaan baru berbeda dengan prokes untuk varian delta ini, kita ini sedang sangat hati-hati untuk menerapkan prokes yang bisa kita terapkan dimasyarakat dan tentunya pemerintah pusat akan memberikan kebijakan yang baik" ungkapnya.

"Kita layak bersyukur kasus aktif barunya di Surabaya lebih rendah dibandikan kasus sembuhnya sehingga kasus aktifnya berkurang tetapi ini baru terjadi di Surabaya dan beberapa daerah lain, kebanyakan daerah-daerah lain masih naik" tutupnya.