Kamis, 30 Desember 2021

Meski Berhasil Kuasai Posisi Ketua Umum Muslimat 4 Periode, Elektabilitas Khofifah Sebagai Capres 2024 Tetap Rendah di Semua Lembaga Survey

Meski Berhasil Kuasai Posisi Ketua Umum Muslimat 4 Periode, Elektabilitas Khofifah Sebagai Capres 2024 Tetap Rendah di Semua Lembaga Survey

Khofifah Indar Parawansa


Menjelang Pilpres 2024, elektabilitas Khofifah Indar Parawansa tak kunjung membaik di bursa kandidat Capres. Apapun lembaga surveinya, tingkat keterpilihan gubernur Jawa Timur itu tetap rendah.

Termasuk hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), 8-16 Desember 2021, yang melibatkan 2.420 responden dengan responden rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) 2.062 atau 85%.

Hasilnya, dalam simulasi semi terbuka 43 nama dengan pertanyaan jika Pilpres 2024 dilakukan hari ini, elektabilitas Khofifah masih tercecer di peringkat 11 dengan tingkat keterpilihan 1,4%.

Elektabilitas perempuan yang sudah berhasil menguasai posisi ketua umum PP Muslimat NU selama 4 (empat) periode itu bahkan masih di bawah Menteri Sosial yang mantan Wali Kota Surabaya dua periode, Tri Rismaharini (1,6%).

Sebelumnya, dalam survei Lembaga Analis dan Konsultan Sosial Politik, Indonesia Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA), 1-7 Desember 2021, elektabilitas Khofifah juga masih tenggelam di posisi 12 dengan elektabilitas 2,83% dari simulasi 15 nama.

Khofifah masih jauh di bawah Ridwan Kamil (4,67%) dan Puan Maharani (4,58%). Bahkan di bawah Andika Perkasa (3,92%), La Nyalla Mattalitti (3,83%), dan Muhaimin Iskandar (3,25%).

Bahkan sejak Juli 2021, elektabilitas Khofifah masih berkutat di bawah 3%. Hal itu terpapar dari hasil survei Charta Politika Indonesia periode 12-20 Juli 2021, saat itu posisinya berada di posisi 10 (2,8%).

Berselisih sangat jauh dengan Ganjar Pranowo yang menempati posisi teratas (16,2%). Menyusul di bawahnya Prabowo Subianto (14,3%) dan Anies Baswedan (14,6%). Lalu Ridwan Kamil (5,4%), Sandiaga Uno (4,6%), dan Agus Harimurti Yudhoyono/AHY (3,9%)

Lantas, siapa yang bertengger di puncak dalam survei SMRC periode 8-16 Desember 2021? Prabowo Subianto masih pilihan teratas responden dengan tingkat keterpilihan 19,7%. Namun persentasenya berimbang dengan Ganjar Pranowo (19,2%).

"Pak Prabowo dan Pak Ganjar berimbang. Lalu Anies (Baswedan) jauh di bawahnya (13,4%) dengan selisih kurang lebih 5,8% di bawah Pak Ganjar," terang Direktur Eksekutif SMRC, Sirojudin Abbas saat pemaparan survei lembaganya secara online, Selasa (28/12/2021).

"Lalu di bawahnya lagi agak sedikit jauh, di bawah 5% Pak AHY (3,7%). Jauh lagi di bawahnya ada Ridwan Kamil (3,3%) dan Basuki Tjahaja Purnama (3%)," sambungnya.

Menurut Sirojudin sebagaimana dilansir Barometer Jatim, temuan dalam simulasi semi terbuka tersebut menunjukkan elektabilitas Ganjar belum melewati Prabowo, tapi ketua umum DPP Partai Gerindra itu juga belum menunjukkan selisih angka yang signifikan.

Terlebih di kategori tingkat ketahuan dan kesukaan responden, Ganjar tetap teratas dengan disukai 86% responden dari 67% yang tahu.

Senin, 29 November 2021

Emil Dardak Apresiasi Peran Santri Hadapi Ancaman Radikalisme

Emil Dardak Apresiasi Peran Santri Hadapi Ancaman Radikalisme

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak keberadaan hari santri yang menjadi elemen penting dalam memupuk jiwa nasionalisme,

Hal ini disampaikan Emil saat hadir dalam pelantikan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur periode 2021-2026 di Ponpes Babussalam, Kabipaten Malang, pada Minggu malam (28/11/2021)

Emil menunjukkan apresiasinya kepada DPD PA GMNI Jatim karena menjadi wadah sinergisnya santri dengan gagasan nasionalisme.

Oleh karenanya, momentum pelantikan DPD PA GMNI Jatim  tersebut adalah memperkuat gagasan nasionalisme untuk memperkuat dan membangun Indonesia , apalagi inisiator tentang adanya hari santri adalah pengasuh Ponpes Babussalam KH Thoriq bin Ziyad atau yang akrab disapa Gus Thoriq.

Sedangkan Gus Thoriq pada saat menjadi mahasiswa di UIN Malang adalah merupakan aktivis GMNI dan pernah menjadi ketua GMNI UIN Malang

Sebagaimana diketahui pada tahun 2014 Joko Widodo (Jokowi) berkunjung ke ponpes Babussalam kabupaten Malang. Pada saat itu Jokowi bersama Gus Thoriq dan beberapa tokoh ulama menandatangani kesepakatan bahwa akan menetapkan adanya Hari Santri, untuk mengingatkan betapa banyak jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Meskipun banyak kalangan yang mungkin karena belum membaca sejarah menuding bahwa ide danya hari santri adalah ide gila, sinting dan tidak masuk akal, Presiden Jokowi melalui Keppres nomor 22 tahun 2015 menetapkan bahwa setiap tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri.

Pertimbangan dalam Keppres nomor 22 tahun 2015 tersebut menyatakan:
a.bahwa ulama dan santri pondok pesantren memiliki peran besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan RI dan memperthankan Negara Kesatuan RI sert mengisi kemerdekaan;
b.bahwa untuk mengenang, meneladani dan melanjutkan peran ulama dan santri dalam membela dan mempertahankan NKRI serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa perlu ditetapkan Hari Santri pad tanggal 22 Oktober;
c.bahwa pada tanggal 22 Oktober itu diperingati merujuk pada ditetapkannya seruan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 oleh para santri dan ulama pondok pesantren dari berbagai penjuru Indonesia yang mewajibkan setiap muslim untuk membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan NKRI dari serangan penjajah.

Pada acara pelantikan DPD PA GMNI jatim tersebut Emil Dardak tampak sangat akrab dengan beberapa tokoh yang hadir seperti Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah, Pengasuh Ponpes Babussalam KH. Thoriq Bin Ziyad, Deni Wicaksono Ketua DPD PA GMNI Jatim, Bupati Kab. Malang Sanusi, Ketua DPRD Prov. Jatim Kusnadi, Ketua Fraksi PDIP DPRD Jatim Sri Untari, Wakil Bupati Madiun Hari Wuryanto, pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang KH. Zahrul Azhar Asumta As'ad atau yang akrab disapa Gus Hans serta beberapa tokoh lainnya

Rabu, 27 Oktober 2021

Khofifah Sudah Lebih Dari 20 Tahun Pimpin Muslimat NU dan Ingin Lagi, Ini Kata Gus Hasan

Khofifah Sudah Lebih Dari 20 Tahun Pimpin Muslimat NU dan Ingin Lagi, Ini Kata Gus Hasan

Khofifah Mengaku Telah Ingatkan Romi Jangan 'Masuk Angin' Seleksi Kakanwil  Kemenag Jatim - News Liputan6.com

Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung, 23-25 Desember 2021 diharapkan tak sekadar menjadi perhelatan akbar dalam prosesi pemilihan ketua umum PBNU.

Tapi juga menjadi evaluasi kerja-kerja organisasi hingga penertiban periodisasi ketua badan otonom (Banom). Terlebih hal itu sudah terjadi dan tidak bisa dibiarkan lepas begitu saja, karena bisa menjadi hal yang sangat tidak baik bagi organisasi sebesar NU.

Hal ini diutarakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, KH Maulana Ahmad Hasan atau yang biasa disapa Gus Hasan

Kiai yang juga wakil katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banyumas itu mencontohkan Muslimat NU, yang sudah lebih dari 20 tahun atau empat periode (2000-2021) diketuai Khofifah Indar Parawansa.

Bahkan, gubernur Jawa Timur itu naga-naganya ingin terpilih lagi untuk periode kelima pada Kongres ke-18 yang dijadwalkan November 2021.

"Sebenarnya di dalam AD/ART NU itu tertulis bahwa tentang masa jabatan ketua Banom itu maksimal dua kali periode, kecuali Banom yang berbasis usia itu malah bisa hanya satu periode, seperti IPNU, IPPNU itu," katanya, Rabu (27/10/2021).

"Jadi Muslimat ini pun perlu ditata yang baik. Marwah PBNU harus bisa mengendalikan dalam artian menertibkan organisasi, baik kinerja-kinerja maupun ketertiban terhadap disiplin mematuhi amanah AD/ART NU," tegasnya.

Mantan Ketua PCNU Banyumas itu meminta kader lain juga diberi kesempatan untuk mengabdi dan berhikmah, sekaligus agar ada regenerasi di tubuh Banom.

"Yakinlah bahwa di Muslimat, di Ansor, di Banom-Banom itu, banyak kader yang siap melanjutkan tonggak estafet untuk mengabdi dan berhikmah kepada bangsa dan umat," kata Gus Hasan.

"Jadi nanti tidak stagnan. Banyangkan saja, kalau organisasi sudah dikendalikan sampai empat periode itu sudah kayak bukan milik orang banyak, tapi seperti milik sendiri," tandasnya.

Dan asumsi yang muncul, tentu akan banyak varian dalamnya, termasuk asumsi bahwa organisasi tersebut dipakai untuk untuk kepentingan tertentu.

"Kalau saya harus ngomong untuk kepentingan ini itu kan enggak etis. Apapun, jejak digital kan tetap tidak akan bisa dihilangkan begitu saja," ucap pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Tengah itu.

Lagi pula semangat Indonesia adalah semangat reformasi yang membatasi jabatan selama dua periode. Bukan untuk menang dan kalah, tapi untuk kemaslahatan kinerja dan regenerasi.

"Karena pada setiap masanya, generasi itu butuh pimpinan, dan memberikan kesempatan generasinya untuk memimpin pada setiap masanya," ujar jajaran ketua Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) PBNU tersebut.

Tak hanya dari Jawa Tengah, sebelumnya desakan agar terjadi regenerasi di pucuk pimpinan Muslimat NU juga terlontar dari Jawa Timur.

"Muslimat butuh regenerasi. Regenerasi itu sangat penting di segala lini. Di Fatayat, Muslimat, terutama juga di NU-nya. Dari deretan ketua umum Banom NU, Khofifah memang paling lama menjadi ketua umum Muslimat NU, hingga lebih dari 20 tahun ," kata Pengasuh Ponpes Metal Muslim Al Hidayah Pasuruan, KH Nur Kholis Al Maulani alias Gus Nur Kholis.


Rabu, 20 Oktober 2021

Setelah 4 Periode Jadi Ketua Muslimat, Khofifah, Layak Pimpin PB NU

Setelah 4 Periode Jadi Ketua Muslimat, Khofifah, Layak Pimpin PB NU

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dipandang layak pimpin PB NU pada muktamar NU ya ng akan digelar bulan 23-25 desember mendatang.

Hal ini disampaikan oleh MH Imam Ghozali yng merupakan pemred media Kontrastimes pada Rabu (20/8/2021).

"Gubernur Khofifah Indar Parawansa layak jadi wanita pertama yang pimpin PB NU kedepan", katanya.


Ada beberapa kandidat lain yang dipandang cocok untuk menjadi ketua PBNU mendatang, diantaranya adalah KH Said Agil Siraj yang merupakan Ketua umum PBNU sekarang, Gus Yaqut menteri agama RI dan beberapa nama lain.

Bukan tidak mungkin Khofifah akan terpilih karena ia memiliki trackrecord yang bagus dalam memimpin muslimat NU selama 4 periode.

Seandainya Khofifah benar-benar terpilih, ia menjadi pemimpin PBNU perempuan untuk pertama kalinya.

Senin, 18 Oktober 2021

Pegawai Pemprov Jatim Diperintah Untuk Sebarluaskan Instagram Khofifah Agar Viral

Pegawai Pemprov Jatim Diperintah Untuk Sebarluaskan Instagram Khofifah Agar Viral

Akhir-akhir ini ramai di grup whatsapp soal screenshoot yang berisi perintah untuk membuat viral instagram gubernur jatim Khofifah  dengan cara menyebarluaskan, like, dan comment di instagram resmi Khofifah.

Diantaranya Perintah itu diberikan lewat grup whatsapp UPT PPSPA Batu dan grup telegram keluarga besar Dinsos Jatim pada Kamis (14/10).

Seseorang dengan nama kontak pak yus dinsos menginformasikan di grup whatsapp UPT PPSPA Batu bahwa kepala dinas sosial memberikan perintah untuk menyebarluaskan, like dan comment instagram khofifah.

Sebelumnya ia membagikan salah satu post instagram khofifah lalu mengajak pegawai UPT PPSPA Batu memviralkan itu.

"Tlg diluaskan....share....like n comment ya Pak...." kata pak yus dinsos.

"Petunjuk Kadis" sambungnya

Grup telegram keluarga besar dinsos jatim juga terdapat perintah yang sama dari seseorang yang bernama Alwi.

Alwi yang dimaksud diduga adalah Kepala Dinas Sosial Jatim yang sampai berita ini diturunkan masih belum bisa dikonfirmasi.

"Monggo comen dan like" ujar Alwi kepada pegawainya di telegram.

Beberapa perintah untuk memviralkan instagram menimbulkan dugaan bahwa Khofifah selaku Gubernur Jawa Timur memberikan perintah ke kepala dinasnya yang kemudian berlanjut dengan kepala dinas itu memerintahkan pegawai untuk melakukan hal yang sama, agar akun Instagram pribadinya bisa menjadi viral

Kamis, 14 Oktober 2021

Diberitakan Muslimat NU Perlu Regenerasi, Khofifah Sewot dan Bully Wartawan Dengan Sindir Pernah Belikan Kamera Chatingnya Jadi Viral

Diberitakan Muslimat NU Perlu Regenerasi, Khofifah Sewot dan Bully Wartawan Dengan Sindir Pernah Belikan Kamera Chatingnya Jadi Viral



Viral di media sosial adanya screenshoot chating antara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan wartawan dan warga pada sebuah group Whtasapp (WA) pada Kamis (14/10/2021)

Diketahui chating di WA yang terjadi pada Rabu (13/102021) viral karena Gubernur Khofifah sewot terhadap wartawan yang mengirim berita berjudul "Khofifah Sudah Ketum 4 Periode, Muslimat NU Butuh Regenerasi!".

Khofifah singgung wartawan tersebut dengan mengingatkan akan pemberian kamera untuk dibuat foto saat Kongres Muslimat NU 2016 lalu.

"Karena kamera yang dipakai motret kegiatan Kongres Muslimat NU saat itu mungkin sampai sekarang juga masih dipakai juga saya yang belikan", kutip chat Khofifah dalam grup whatsapp kepada wartawan yang bernama Rofik itu.

Ketika dimintai konfirmasi melalui HP/WAnya 081330199133, wartawan yang bernama Rofiq itu enggan menanggapi sewotnya Gubernur Jatim, karena menurutnya kurang penting dan ia merasa sudah menjalankan tugasnya dengan baik sebagai pewarta.

Sementara Khofifah ketika dimintai konfirmasi  melalui HP/WAnya 08118788888 belum memberikan tanggapan

Rabu, 13 Oktober 2021

Muktamar NU: Regenerasi Adalah Keniscayaan Jika Tidak Ingin Ditelan Zaman

Muktamar NU: Regenerasi Adalah Keniscayaan Jika Tidak Ingin Ditelan Zaman

Kumpulan Berita Seputar Gus-hans

Surabaya, Menjelang Muktamar NU, kiranya tidak akan sulit mencari sosok yang pantas untuk memimpin NU , karena NU itu gudang nya orang-orang pintar dengan berbagai keilmuan yang dimiliki dan setiap zaman memilki tantangan serta warna yang berbeda beda

Hal ini dikatakan oleh tokoh muda NU Zahrul Azhar Asumta yang juga merupakan pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang, Jawa Timur.

Pria yang akrab disapa dengan panggilan Gus Hans ini menyatakan bahwa tantangan 10 tahun atau 50 tahun atau bahkan 5 tahun yang lalu dan begitu pula 4 tahun kedepan sudah berbeda beda  tantangannya

"Maka  siapapun yang memimpin NU selain harus memilki nilai kepantasan secara keilmuan juga mereka yang bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman di era global" kata Gus Hans

Menurutnya, NU saat ini membutuhkan sosok yang bisa memberikan keyakinan kepada publik bahwa NU adalah organisasi yang berwawasan internasional dengan landasan kebangsaan tak tergoyahkan (selain masalah keagamaan dan jamiyah sebagai domain utamanya).

"Kita sudah harus melangkah jauh kedepan mempromosikan konsep Islam rahmatan lilalamin ala nusantara  sebagai gerakan revolusi budaya, moderasi beragama yang bisa diterima oleh masyarakat internasional", katanya.

Wakil Rektor UNIPDU Jombang ini memberikan ilustrasi, kalau Korea Selatan saja bisa berekspansi dalam melakukan penetrasi budayanya melalu budaya K-POP, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama dalam mengenalkan konsep moderasi beragama ala nusantara . Maka dalam hal Ini NU membutuhkan nahkoda yang sudah terbiasa melakukan kegiatan kegiatan intelektual dan networkung beserkala internasional.

"Saya mengusulkan adanya posisi Ketum (ketua Umum) dan Waketum (Wakil Ketua Umum) yang memiliki tugas yang berbeda. Ketum fokus pada hal hal kebangsaan dan issue issue internasional sedangkan Waketum fokus pada pembinaan jamiyah dan keorganisasian", tambahnya.

Gus Hans menegaskan bahwa regenerasi dalam organisasi adalah suatu keniscayaan jika tidak ingin ditelan oleh zaman.,Termasuk juga di NU beserta banom banom nya (Badan Otonom – red).  

"Kegagalan yang tak dirasakan oleh pemimpin yang gagal adalah ketika ia gagal mencari siapa penggantinya,  karena seakan tidak ada yang mampu menggantikannya.  Situasi ini bisa terjadi karena sengaja dikondisikan oleh diri sendiri atau sengaja dibentuk oleh orang sekitarnya yang takut kehilangan posisinya. Dua- duanya tidak bagus untuk organisasi yang sehat", jelasnya.

Gus Hans tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada KH Said Agil Siroj, Ketua Umum PB NU saat ini. Menurutnya ada sesuatu keistimewaan yang dimilik oleh KH Said Agil, yakni kealiman yang allamah dan penguasaan akan ilmu sejarah dan hukum hukum Islam.

"Beliau sosok yang sangat sangat mumpuni, maka sangat tepat jika Ahwa memutuskan beliau menjadi Rois Aam. Menurut saya dari segala apa yang dimilik oleh beliau terlalu kecil jabatan Ketua Umum bagi beliau", tegasnya.

Gus Hans tidak melihat adanya perpecahan di dalam Tubuh NU. Yang ada hanyalah dinamika kecil yang jamak terjadi menjelang muktamar, dan ini menunjukan bahwa NU adalah organisasi yang hidup dan SEXY.  

"Semua pihak pasti mengaku dirinya paling progresif karena memang yang dibutuhkan NU sekarang ini memang progresivitas seiring cepatnya perkembangan zaman. Saya kira yang ada adalah sebatas  pada ketidak-siapan beberapa orang yang sekarang menikmati "zona nyaman" saja", urainya.

Menurut Gus Hans, PB NU dibawah kepemimpinan KH Said Agil sudah on the track walau dengan sedikit akrobatik yang terkadang belum bisa diikuti oleh para jamaah yang ada dibawah. Tapi bisa jadi menurutnya ini adalah cara KH Said Agil untuk mengajak seluruh lapisan jamiyah agar lebih dewasa untuk bersikap dalam berpolitik dan berbangsa.

"Situasi masih dinamis ya , dan memang beberapa nama calon sudah mulai bermunculan dan yang paling dominan adalah Gus Yahya dengan segala kiprah dan track record internasional-nya. Bagi saya KH Said Agil memiliki makom yang pas yang sangat layak jika Ahwa menunjuk beliau sebagai Rois Aam", pungkasnya.

Rabu, 29 September 2021

Pilpres 2024 dan Ancaman Terhambatnya Kemajuan Bangsa

Pilpres 2024 dan Ancaman Terhambatnya Kemajuan Bangsa
Oleh: Roedy S Widodo


Perbedaan Bendera Indonesia dan Monako

Hari ini seorang sahabatku bertanya, siapa yang pantas menggantikan Pak Jokowi sebagai Presiden RI dilihat dari sisi kwalitasnya.

Saya jawab:" Jujur, nggak ada, tapi ini adalah sebuah konsekwensi dari demokrasi dan aturan yang menetapkan bahwa Presiden hanya bisa dipilih untuk dua kali masa jabatan ".
Dengan segala kekurangannya, menurut saya Pak Jokowi adalah anugerah Tuhan bagi bangsa ini.

Dengan segala tantangan yang ada, Pak Jokowi fokus membangun bangsa ini dengan serius dan banyak langkahnya adalah antitesa dari Presiden sebelumnya.

Pak Jokowi telah menanamkan dasar dasar kemajuan bangsa. Pembubaran Petral, Penerapan UU penanaman modal asing yang konsisten sehingga akhirnya Indonesia bisa menguasai mayoritas saham Freeport , mengambil alih Blok Mahakam dan Roksn hulu, mamaksimalkan potensi lokal seperti Nikel sehingga Indonesia akan menjadi pusat pabrikan battery untuk mobil listrik, pembangunan infrastruktur sampai ke Papua dan daerah pinggiran lainnya.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana 10 tahun jabatan kepresidenan Pak Jokowi ternyata bisa menghasilkan melampaui semua karya Presiden sebelumnya.

Tentunya 10 tahun masa pemerintahan Pak Jokowi belumlah cukup untuk memperbaiki semua kerusakan yang terjadi karena pemerintahan sebelumnya. Penegakan hukum dan mental birokrasi dalam kaitannya dengan korupsi masih menjadi kekurangan nyata yang dilihat secara jelas oleh jelata seperti saya

Intoleransi yang bersemai riuh pada masa Presiden SBY juga menjadi ancaman nyata saat ini.

Belum lagi para elit yang ketakutan perbuatan busuknya terbongkar sehingga dengan secara sengaja mensponsori demo dan gerakan yang bertujuan untuk mengganggu jalannya pemerintahan Presiden Jokowi.

Kita semua tahu di era Presiden SBY, masih banyak kasus yang belum terungkap seperti Bank Century, Hambalang , Petral dan lain lain.

Kasus-kasus tersebut ditengarai melibatkan elit dan keluarga Presiden SBY, sehingga SBY dan Demokrat beserta kroninya selalu berusaha menutup kasus-kasus tersebut.

Jadi kita semua tahu ada klan mantan penguasa yang berusaha mengganggu pemerintah agar kasus-kasusnya tidak pernah terungkap.

3C begitu sebutan masyarakat untuk menggambarkan klan mantan penguasa yang khawatir dan terganggu dengan sepak terjang Presiden Jokowi.

Ditambah lagi dengan banyak elit politik lain dan pengusaha hitam yang kehilangan lumbung rejekinya karena kebijakan Presiden Jokowi.

Oleh karena itulah maka Pilpres 2024 akan tidak mudah bagi tokoh nasionalis yang ingin melanjutkan perjuangan Presiden Joko Widodo.

Bisa saja para Barisan Sakit Hati dan Barisan yang prihatin karena terancam kasusnya dibuka bersatu dan dengan kekuatan logistiknya akan berusaha mempengaruhi rakyat. Strategi awalnya dengan berusaha membenturkan kaum nasionalis karena kelompok tersebut hanya bisa menang tatkala kaum nasionalis tidak solid bersatu.

Sebagai rakyat yang mencintai negara ini, tentunya kita tidak ingin kemajuan luar biasa yang sudah dikerjakan oleh Presiden Joko Widodo, akhirnya hanya menjadi puing-puing monumen kemajuan, karena penerus Pak Jokowi tidak mempunyai semangat dan kemampuan untuk terus memajukan bangsa.

Belum lagi faktor negara Asing yang juga tidak ingin Indonesia menjadi negara yang maju dan menjadi pesaing berat mereka.

Menurut saya, kubu sebelah yang tidak ingin kemajuan yang sudah dicapai oleh Pak Jokowi diteruskan secara baik, sangatlah kompak. . Satu contoh adalah Anies Baswedan, sang Gubernur rasa Pleciden. Abas adalah salah satu tokoh yang bisa dikendarai oleh kubu tersebut.

Walaupun nirprestasi sebagai Gubernur DKI, tetapi ketika ada masalah, terlihat ada kekuatan yang membela.

Kita lihat kasus Pak Pemut Aryo Wibowo, kepala BPK DKI yang menyoroti laporan keuangan Pemda DKI tahun 2019 serta kasus Formula E. Apa yang terjadi dengan beliau?

Dipindah Coy.

Pak Pemut dipindahkan sebagai Kepala BPK di Aceh. Alasan pimpinan BPK adalah pemindah-tugasan biasa karena baik DKI maupun Aceh sama sama kantor klas A.

Teman- teman percaya?

Pasti tidak!!

Satu lagi ketika Anies Baswedan akhirnya dipanggil ke KPK sebagai saksi. Apakah ada media yang memberitakan ? Kalaupun ada maka pemberitaannya malah positif bagi Anies.

Ada info bahwa ada wartawan Metro TV yang nge pos di KPK diliburkan karena dia membuat liputan tentang Anies yang tidak berkenan bagi petinggi Metro TV.

Dari dua kasus ini saja kita bisa melihat siapa gerangan yang mendukung Anies.

Kita semua tahu Agung Firman Sampurno, sang kepala BPK adalah anak dari Kahar Muzakir, Politisi Golkar yg sudah menjadi anggota DPR RI selama 4 periode. Didalam struktur Kepemimpinan BPK ada Pius Lustrilanang yang merupakan politisi Gerindra , Harry Azhar Aziz , politisi Golkar serta Achsanul Kosasih, pemilik klub sepakbola Madura United yang juga Politisi Demokrat.

Makanya kita semua tidak heran kalau saat pengusutan kasus Jiwasraya, BPK membatasi tahun pembukuan yang diperiksa karena pada tahun sebelumnya tercatat ada yang masih punya kewajiban trilliunan ke Jiwasraya dan sampai sekarang belum dibereskan.

Kalau soal Metro TV, pastinya kita semua tahu siapa petingginya.

Kesolidan kaum nasionalis akan menjadi kunci keberlangsungan kemajuan negara ini.

Ini negara kita, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?

Begitulah kura-kura.

Senin, 20 September 2021

Walikota Malang Arogan, Bersama Rombongan Nekat Langgar PPKM Dengan Paksa Masuk Tempat Wisata

Walikota Malang Arogan, Bersama Rombongan Nekat Langgar PPKM Dengan Paksa Masuk Tempat Wisata

Wali Kota Surabaya Langgar PPKM, Paksa Masuk ke Pantai Kondangmerak, Polres  Malang Tindaklanjuti Laporan - Views

Hingga saat ini pantai wisata Kondang Merak dan Baju Meneng serta sepanjang pantai wisata se-wilayah kecamatan Buntur, Kabupaten Malang belum dibuka bagi pengunjung, karena masih diterapkan PPKM Level 3 di Malang Raya sesuai dengan instruksi Mendagri Nomor 42 Tahun 2021dan Surat Keputusan Bupati Malang. Dan ada ancaman pidana bagi siapa saja yang melanggar aturan tersebut.

Namun, ada saja pejabat yang tetap melanggar aturan-aturan tersebut, yang semestinya mereka menjadi contoh masyarakat.

Hal ini diketahui dengan adanya sejumlah pejabat pemerintah kota Malang yang melanggar aturan PPKM dimana rombongan pejabat memaksa memasuki pantai tersebut walaupun sudah dilarang dan dihalangi petugas baik polisi maupun TNI.

"Mereka tetap memaksa menerobos masuk ke pantai," ujar Zulham Mubarak, salah satu warga dalam akun Facebooknya sambil memutar video peristiwa tersebut sebagaimana https://www.facebook.com/1608030655/videos/pcb.10224130952694063/249729480391609

Zulham Mubarak adalah salah satu warga dari Kabupaten Malang yang merasa geram atas perilaku para pejabat di pemerintahan Kota Malang.

"Entah sudah berapa bulan kami dilarang jalan ke tempat wisata yang hanya berjarak selemparan batu dari dari rumah kami. Tapi kini kesabaran kami sebagai warga kabupaten Malang ternyata diuji oleh pejabat tetangga kita pemerintah kota Malang," ujarnya menambahkan.

Menurut pantauan dari warga, pada Minggu (19/9/2021) Jam 10.00 Pagi, Sejumlah pejabat Kota Malang, di hari libur, dengan menggunakan kendaraan pelat merah, menerobos masuk ke tempat wisata di Kabupaten Malang. Ada kurang lebih 50 orang rombongan yang datang dan melanggar aturan penutupan tempat wisata.

"para pejabat itu terdiri dari Wali Kota Malang Drs H Sutiaji, bersama isteri, Sekda Erik Setianto beserta isteri, Kadishub Heru Mulyono, pejabat OPD Pemerintahan kota Malang, para Camat kota Malang dan jajaran pejabat lainnya," terang Zulham.

Menurut kesaksian warga, sejumlah mobil yang dipakai kawan-kawan pejabat Kota Malang:
1.Kendaraan Dinas Satpol PP Kota Malang N. 8545 AP
2.Kendaraan Dinas Satpol PP kota Malang N 8057 AP
3.Kendaraan Dishub Kota Malang N 8050 BP
4.4 (empat) unit mobil dinas jenis Avansa No Pol. N 99 AP, N 1101 AP, N 1454 AP, N 92 BP.
5.1 (satu) unit kendaraan ambulance, N 8524 AP
6.2 (unit) mobil Pick Up No Pol Dinas N. 8645 AP, dan N 8637 AP
7.3 (tiga) unit Mobil Pick Up pribadi N 8518 BS, N 8731 EH.
7.1 (Satu) unit mobil H.I.C warna Putih Dinas Pemkota Malang N 7263 BP
8.1 (satu) unit Mobil Elf Dinas Pemkota Malang untuk mengangkut Konsumsi N 7060 AP
9.7 (tujuh) unit mobil Pribadi plus dikendaraan Walikota Malang, Mitshubishi Pajero N 1330 BS.

"Pada hari Minggu, mereka gowes naik mobil dinas pelat merah plus menerobos paksa penutupan pantai di wilayah Kabupaten Malang. Bukankah ini diluar jam dinas? bukankah anda semua yang selama ini atas nama aturan membatasi aktivitas banyak warga Kota Malang atas nama PPKM, lalu apakah boleh sebagai pejabat anda melanggar aturan PPKM di wilayah tetangga?" kata Zulham

"Sebenarnya, sikap macam apa yang sedang dipertontonkan oleh para birokrat Kota Malang ini?" tambahnya.

Warga Kabupaten Malang berharap Bupati Malang segera bertindak terhadap pelanggaran yang dilakukan Walikota Malang dan jajarannya yang melanggar PPKM di wilayah Kabupaten Malang.

Menurut Zulham, perilaku Wali Kota dan jajaran pejabatnya harus diingatkan. Dan pihak aparat berwenangpun harus segera bertindak.

"Agar aturan PPKM ini tidak hanya berlaku bagi rakyat kecil saja," kata Zulham Mubarak dalam akun Facebooknya.

Saat berita ini diturunkan, dari informasi yang didapat pihak kepolisian juga sudah melakukan penyelidikan terkait laporan masyarakat adanya pelanggaran PPKM yang dilakukan wali Kota Malang dan jajarannya.


Jumat, 17 September 2021

Mangga mahatir? Mangga jumbo kualitas super. Mau?

Mangga mahatir? Mangga jumbo kualitas super. Mau?

Jual Promo Buah Mangga Harum Manis - Kab. Bogor - Toko BarNa | Tokopedia

_•    Mangga unggulan asal Malaysia.
•    Ukuran super besar hingga 3 KILOGRAM.
•    Rasa manis dan menyegarkan.
•    Buah tebal tanpa serat.
•    Aroma harum dan semerbak.
•    Kandungan gizi tinggi.
•    Genjah dan cepat berbuah.
•    Mutu dan kualitas diakui dunia.
•    Bernilai ekonomis tinggi.
•    Perawatan sangat mudah.

, ✅Bibit Mangga Mahatir Jumbo merupakan bibit dari perbanyakan dengan cara okulasi oleh karena itu lebih cepat menghasilkan buah daripada bibit yang ditanam dari biji. Pada umumnya sudah berbuah sekitar 1 - 2 tahun setelah Anda tanam.

Jadi mau tunggu apa lagi?

Silakan klik dibawah jika berminat dengan bibit mangga mahatir
👇🏻👇🏻👇🏻

https://bit.ly/2UZYWxb
https://bit.ly/2UZYWxb

Kontak person / w.a :
085853410950

Sabtu, 11 September 2021

Prinsip Manual Handling Yang Baik dan Benar Saat Bekerja

Prinsip Manual Handling Yang Baik dan Benar Saat Bekerja

Prinsip Manual Handling Yang Baik dan Benar Saat Bekerja

Manual handling adalah aktifitas yang melibatkan pergerakan atau tumpuan beban oleh anggota gerak tubuh dan bagian tubuh lainnya. Aktifitas manual handling di dalamnya adalah: mendorong, menarik, membawa, menurunkan beban, memindahkan beban, aktifitas dengan posisi tubuh yang janggal dan kegiatan fisik yang membutuhkan tenaga yang cukup besar.

Pekerja yang melakukan manual handling yang salah dapat mengalami gangguan otot rangka (musculoskeletal disorder) yang mempengaruhi ligament, otot dan rangka tulang belakang/punggung. Secara anatomi, bentuk "S" pada tulang belakang berfungsi untuk meredam getaran/benturan (shock absorption) serta membentuk fleksibilitas tubuh yang baik. Bagian lumbar yang paling fleksibel dan berperan besar dalam menopang beban tubuh.

Ligament tersambung dengan komponen diskus/kepingan tulang belakang, Tendon menyambung otot dan tulang untuk membentuk tubuh dan menopang tubuh sedangkan otot berperan untuk menyangga tubuh dan berfungsi mengatur tubuh dapat berubah postur/posisi.

Aktifitas manual handling yang salah dapat menyebabkan pembebanan tulang belakang. Pembebanan tulang belakang meningkat seiring dengan jarak beban yang semakin menjauh dari tubuh.

Gangguan otot rangka atau cedera akibat manual handling yang salah merupakan akumulasi aktifitas berat dari awal aktifitas dibandingkan akibat dari pekerjaan yang dilakukan sekali waktu. Lebih dari 30% kecelakaan akibat kerja dilaporkan terkait dengan aktifitas manual handling yang tidak benar.

Faktor risiko manual handling:

1.Aktifitasfisikberat
2.Frekuensi dan beratpenangananbeban
3.Tinggi Posisi Beban, jarak posisi beban, kesimetrisan beban, posisi janggal seperti membungkuk/memutar/menekuk/posisi yang monoton/statis.,. Gangguan otot rangka dapat diperberat oleh beberapa factor risiko saat bekerja seperti: beban kerja-kerja yang tinggi, dan sikap kerja yang monoton.
4.Durasi manual handling yang dilakukan
5.Handling dan lifting support (alat bantu berupa pegangan tangan, trolley, dll)
6.Kondisi personal; tingkat kebugaran individu dan factor Psikosisial
7.Kondisi lingkungan kerja; temperature, pencahayaan, kelembaban udara.

Prinsip-prinsip manual handling yang benar dan amanuntukmenjagaproduktifitaskerja:

1.Sebelum melakukan manual handling, lakukan risk assessment dan control; Selalu perhatikan berat beban, nilai objek apakah bisa dijadikan lebih ringan, perhatikan sekitar objek, mitigasi ada tidaknya bagian ujung yang tajam pada objek, dan nilai apakah distribusi beban objek merata.

2.Menilai keadaan/lingkungan sekitar objek yang akan di angkat; periksa rute (identifikasi halangan dan hambatan dalam melakukan pemindahan objek), amankan beban dengan baik, pastikan pegangan tangan/objek yang baik, beban diangkat dengan hati-hati dengan menghindari postur tubuh yang janggal, bila perlu dapat mencari bantuan dan menggunakan alat bantu seperti trolley.

3.Selalu memperhatikan metode manual handling yang benar; berdiri dekat dengan beban; lebarkan kaki; tekuklutut, pegangan beban dengan kuat, naikkan kepala, angkat dengan otot kaki, pegang dan bawa beban dekat dengan tubuh, objek tidak menghalangi pandangan dan hindari memutar tubuh ketika menangani beban.

4.Lakukan self-Assessment untuk mengangkat, menurunkan dan membawa beban.

5.Lakukan stretching dan peregangan sebelum dan sesudah melakukan manual handling selama 3-5 menit untuk menhindari gangguan otot rangka berupa nyeri, kram otot dan spasme.

6.Senantiasa menjaga kebugaran tubuh untuk tetap bias mempertahankan produktifitas saat bekerja.


Soekarno di Mata Orang Afrika

Ben Mboi: 'Mohon Maaf Bung Karno'
"Soekarno di Mata Orang Afrika"

Soekarno Penggemar Berat Sate, Punya Tempat Sate Favorit di Bandung

BRIGJEN TNI (Purn.) dr. Aloysius Benedictus Mboi, MPH adalah Gubernur NTT (Nusa Tenggara Timur) dua periode (1978-1988).

Ben Mboi, demikian nama populernya, lahir di Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 22 Mei 1935, kemudian meninggal di Jakarta, 23 Juni 2015 pada umur 80 tahun.

Beliau salah satu dari ratusan anggota DPRGR/MPRS yang memberhentikan Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia dan melantik Soeharto sebagai presiden pada 27 Maret 1968.

Namun, kemudian dia menyesal setelah sebuah pengalaman menyentaknya ketika bertemu dengan orang-orang Afrika.

Ben Mboi menceritakan pengalamannya itu dalam Memoar "Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja".

Pada 1971 dia mengambil gelar Master of Public Health di Belgia. Di sana, dia bertemu dokter-dokter dari Afrika dan Timur Tengah, antara lain Tanzania, Uganda, Kongo, Kamerun, Nigeria, Mesir, Irak, Iran, dan Kuwait.

Mereka bertanya, "Anda dari mana?"

Ben menjawab dari Indonesia.

"Oh Indonesia Soekarno?"

"Tidak," kata Ben. "Indonesia Soeharto!"

"Di mana Soekarno?"

"Soekarno sudah disingkirkan dan sudah meninggal."

"Kenapa dia disingkirkan?

"Ben menjawab seperti mode pada saat itu, "Soekarno bersimpati terhadap komunisme."

"Apa?…… Karena bersimpati pada komunis kamu singkirkan dia? Dia yang membawa kamu jadi merdeka, kamu singkirkan hanya karena dia bersimpati pada komunis? Astaga, kamu lebih pentingkan komunisme daripada kemerdekaan? Kamu tidak tahu terima kasih!"

"Supaya Anda tahu, kami orang Afrika merdeka oleh getaran yang digerakkan oleh Soekarno, yang membangkitkan harga diri dan patriotisme orang Afrika.

Aneh, …dia yang bawa kamu ke pintu gerbang kemerdekaan malah kamu singkirkan!"

"Saya tidak dapat menjawab. Betapa pentingnya makna kemerdekaan itu. Betapa pentingnya seorang Bapak Bangsa itu, yang membawa kita ke pintu gerbang kemerdekaan," kata Ben Mboi yang kemudian menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur.

Salah satu getaran yang digerakkan Soekarno adalah Konferensi Asia Afrika pada 1955. Bangsa-bangsa Asia dan Afrika, terutama yang belum merdeka, memenuhi undangan Soekarno untuk menghadiri Konferensi Bandung itu, untuk menuntut kemerdekaannya.

Akhirnya, Ben Mboi pun menyadari bahwa "oleh bangsa-bangsa Afrika Soekarno disamakan dengan Musa yang membawa orang Israel keluar dari perbudakan Mesir. Dan kita, orang Indonesia, mencampakkan dia dari ingatan sejarah.

Mohon Maaf Bung Karno !!



Sumber: http://share.babe.news/s/cxRQQwxsTR

Minggu, 22 Agustus 2021

“Islam Madani” Versus “Islam Medeni”

Kontestasi "Islam Madani" versus "Islam Medeni"
By Sumanto al Qurtuby

Upaya Mengatisipasi Radikalisme Di Indonesia - Suaradewata.com

"Islam madani" versus "Islam medeni": Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Simak pasang surutnya di peta politik Indonesia dalam kolom Sumanto al Qurtuby.

Belum lama ini saya memberi kuliah umum secara daring di Program Studi Islam Madani (Falsafah dan Agama), Universitas Paramadina, tentang kontestasi antara kelompok "Islam madani" versus "Islam medeni" di Indonesia dan Arab Saudi.

Yang dimaksud "Islam madani" di sini kurang lebih adalah jenis keislaman yang bercorak moderat,toleran, inklusif, dan pro-kebhinekaan serta menjunjung tinggi keadaban dan tradisi berpikir kritis-akademis dalam memahami wacana keagamaan, keislaman, dan sosial-

kemasyarakatan. Inilah jenis keislaman yang diidealkan, diperjuangkan, sekaligus ingin diwujudkan di Indonesia oleh almarhum Profesor Nurcholish Madjid (Cak Nur), pendiri Universitas Paramadina. Nama "paramadina" sendiri mengandaikan "Islam madani" itu yang diinspirasi oleh penggantian nama Yatsrib menjadi Madinah oleh Nabi Muhammad.

Sementara itu, yang dimaksud "Islam medeni" di sini kira-kira adalah jenis keislaman yang bercorak radikal-ektremis, eksklusif, intoleran, anti-keragaman, suka bertindak atau mendahulukan kekerasan (radikalisme) dalam menyelesaikan masalah sosial-keagamaan serta minus pikiran kritis-akademis dalam memahami dan menafsirkan teks dan wacana keislaman dan keagamaan.

Kata "medeni" di sini diambil dari bahasa Jawa yang berarti "menakutkan" karena memang tampilan mereka yang menakutkan masyarakat luas lantaran suka main kasar, "ngamukan" dan hobi berbuat onar di masyarakat.

Ekspresi atau tampilan kedua kelompok ini di masyarakat tidak sama. Misalnya, kelompok "Islam medeni" itu bervariasi ekspresinya. Ada yang "ultraekstrem" dan mematikan seperti kelompok teroris yang suka ngebom di tempat-tempat umum: tempat ibadah, hotel, restauran, café, kantor polisi dlsb.

Ada yang suka melakukan aksi-aksi vigilantisme atau persekusi seperti menggeruduk umat agama, sekte, atau kelompok Islam lain yang tidak sepaham atau sehaluan dengan mereka. Ada pula yang suka melakukan "kekerasan verbal" melalui perkataan atau ucapan seperti ujaran kebencian (hate speech), provokasi, dan pernyataan intoleransi terhadap kelompok lain.

Kelompok "Islam madani" pun demikian. Ada yang sebatas "moderat" dan "toleran", baik dalam perkataan maupun tindakan. Ada pula yang tingkatannya lebih tinggi sedikit, yaitu sikap "pluralis" (atau mereka yang berpegang pada prinsip pluralisme) yang bukan hanya sebatas bersikap moderat dan toleran terhadap umat agama lain tetapi juga diiringi dengan tindakan "deep engagement and dialogue", baik melalui tindakan pergumulan fisik (bahasa Jawa: "srawung") maupun dengan mempelajari serta keinginan kuat untuk mengetahui dan menggali lebih jauh aneka ragam praktik keagamaan umat lain.

Aneka ragam kelompok

Penting untuk diketahui bahwa baik kelompok "Islam madani" maupun kelompok "Islam medeni" bukanlah unik Indonesia. Hampir di setiap negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim, memiliki kelompok ini. Bahkan di negara-negara di Eropa, Amerika Utara, atau Australia dlsb, kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" juga ada.

Tentu saja, "ekstremisme" dan "moderatisme" bukan hanya monopoli umat Islam. Umat agama lain pun memiliki kecenderungan yang sama: ada kelompok agama yang bercorak ekstrem di satu sisi, dan moderat di pihak lain.

Kedua kelompok ini saling berebut pengaruh di masyarakat untuk merebut "hati" umat Islam. Dalam sejarah Islam, fenomena ini bukanlah hal baru sebetulnya. Sudah sejak masa awal formasi Islam di abad ke-7 M, kontestasi antara kelompok "Islam madani" dan "Islam medeni" ini sudah ada yang kemudian kelak menjadi aneka ragam mazhab, aliran, sekte, atau kelompok keislaman.

Dalam konteks Islam, perseteruan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad (w. 632 M) menyebabkan umat Islam terbelah menjadi aneka ragam kelompok sektarian dengan beragam ekspresi sosial-kepolitikan dan keislaman.

Ada kelompok yang "pasrah" serta mengedepankan "quietism" dan "apolitis" seperti Murji'ah tetapi ada pula kelompok yang sangat ekstrem dan frontal melakukan tindakan kekerasan bahkan dengan melancarkan serangkaian aksi pembunuhan sistematis pada para tokoh dan sekelompok Muslim yang berseberangan dengan mereka seperti yang dilakukan oleh kaum Khawarij.  

Dari dulu hingga kini, mereka sama-sama mengembangkan strategi, mekanisme, cara, dan taktik tertentu dalam berdakwah, "berjuang", bersosialisasi, dan bermasyarakat agar mendapat simpati publikMuslim dan banyak pengikut.

Bedanya, kelompok "Islam medeni" tidak sungkan-sungkan menggunakan pendekatan kekerasan (fisik maupun verbal) sedangkan kelompok "Islam madani" tidak menyukai kekerasan fisik tetapi lebih menyukai atau mengedepankan "perang pemikiran" (battle of thought).

Mereka juga sama-sama menggunakan legitimasi atau justifikasi teks-teks keislaman yang diambil dari Al-Qur'an, Hadis, atau dalam konteks kontemporer ditambah kitab-kitab atau pendapat (aqwal) para ulama panutan mereka, baik yang klasik maupun modern, guna mendukung dan memperkuat pendapat, pemikiran, dan praktik keagamaan yang mereka lakukan.

Pula, khususnya dalam konteks kontemporer seiring dengan perkembangan teknologi, mereka menggunakan beragam media (cetak, visual, audio-visual, online atau melalui perkumpulan dan pengajian rutin) dan aneka institusi (masjid, madrasah, ormas, Islamic center dlsb) untuk menyebarluaskan ide-ide mereka. Dulu, perseteruan dilakukan melalui masjid atau forum-forum pertemuan publik saja.

Menjalin patronase dengan kekuasaan

Dalam sejarahnya dan bahkan hingga kini, baik kelompok "Islam madani" maupun "Islam medeni" sama-sama berusaha menjalin patronase dengan kekuasaan (rezim politik) untuk melanggengkan gagasan dan visi-misi mereka di masyarakat. Hal itu bisa dimaklumi karena kekuasaan politiklah yang mempunyai atau memegang otoritas dan akses terhadap sumber-sumber ekonomi, finansial, dan kepolitikan.

Dalam upaya untuk berpatron dengan kekuasaan ini, ada kalanya kelompok "Islam madani" yang berhasil dan kemudian ikut mengontrol produksi wacana keislaman tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang berhasil "berbulan madu" atau bersinergi dengan kekuasaan yang kemudian "membabat" habis rival-rival politik dan agama mereka. Misalnya, kelompok Sahwa di Arab Saudi untuk contoh "Islam medeni" di awal 1980an tetapi sejak beberapa tahun terakhir, kelompok "Islam madani" yang berpatron dengan pemerintah.

Tetapi ada pula yang kemudian berubah, mengalami transformasi atau menjelma dari kelompok agama menjadi kelompok politik karena sukses mengontrol teritori negara. Contohnya, untuk kasus "Islam medeni", adalah fenomena kaum Taliban di Afghanistan pada pertengahan 1990an atau kelompok "Revolusi Islam" di Iran pada akhir 1970an.

Kalau melihat data-data sejarah dari dulu hingga kini, kelompok "Islam madani" yang lebih banyak "diatas angin" dalam pengertian sukses menjalin koalisi dengan otoritas politik. Meskipun di beberapa negara yang mayoritas berpenduduk Muslim di Timur Tengah dan Afrika (sebut saja Mesir, Lebanon, Palestina, Sudan, Aljazair, Iran, atau Yaman) kontestasi kedua kelompok cukup dinamis dan fluktuatif dari waktu ke waktu dalam hal perebutan akses kekuasaan politik-pemerintahan.

Ada kalanya kelompok "Islam madani" yang unggul tetapi kadang kelompok "Islam medeni" yang sukses.

Siapa yang menang?

Dalam konteks Indonesia, kontestasi kedua kelompok selalu dimenangkan oleh "Islam madani", meskipun sudah sejak awal kemerdekaan kelompok "Islam medeni" berusaha merebut, mengontrol, dan mendominasi kekuasan dan negara seperti yang dilakukan oleh para pendukung Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (didirikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pada tahun 1949)

Baik Sukarno maupun Suharto sama-sama antikelompok "Islam medeni", meskipun di akhir-akhir kekuasaan Pak Harto ia menjalin "kongkalikong" dengan kelompok "Islam medeni" untuk mengimbangi atau membendung gerakan "Islam madani" yang mulai berani mengkritik kekuasan, pemerintah, dan Pak Harto.

Setelah Pak Harto tumbang, kelompok "Islam medeni" mendapatkan "angin surga". Mereka terus berusaha menggelembungkan diri dengan berbagai cara, misalnya memperbanyak ormas, membuat sekolah, atau secara terbuka berceramah. Jadi, demokrasi adalah "berkah" buat kelompok karena demokrasilah mereka bisa berkembang biak. Ironisnya, mereka sering mengkritik demokrasi karena dianggap produk sekuler-Barat yang tidak Islami.

Kelompok "Islam medeni" juga terus berusaha mempengaruhi para pemangku kebijakan (pemerintah atau politisi) untuk memuluskan jalan bagi pembuatan berbagai peraturan hukum (Perda, Pergub, Surat Edaran, dlsb) yang diambil dari aturan hukum Islam tertentu.

Meskipun demikian, hingga kini, kelompok "Islam medeni" ini belum berhasil menguasai kekuasaan politik-pemerintahan. Nasib mereka semakin tersungkur karena Presiden Joko Widodo dan jajarannya mulai gencar membungkam kelompok ini serta memangkas jaringan dan sel-sel mereka. Itu belum lagi ditambah gerakan masif-intensif yang dilakukan oleh para eksponen "Islam madani" seperti Nahdlatul Ulama yang gencar "memerangi" pemikiran dan gagasan "Islam medeni".

Bagaimana "nasib" kelompok "Islam medeni" ini ke depan? Bagaimana kontestasi kedua kelompok ini di masa mendatang? Waktu nanti yang akan menjawabnya.
 
Sumanto Al Qurtuby adalah Direktur Nusantara Institute; dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi; Visiting Senior Scholar di National University of Singapore, dan kontributor di Middle East Institute, Washington, D.C

Sabtu, 21 Agustus 2021

Bersumber dari Pendangkalan

Bersumber dari Pendangkalan
by KH. Abdurrahman Wahid

Gus Dur Gitu Aja Kok Repot - Home | Facebook

Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan HAM. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah "bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a'la al-kuffar ruhama baynahum).

Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud Al Quran dalam kata "kafir" atau "kuffar" adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani mengemukakan hal itu?

Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian, Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadinya peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan diskrimanatif. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.

Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, "taatlah kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan" (Athi u' allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan— mengikuti perintah tersebut. Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan, karena penulis mengaggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini, dipertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, sudah ada pernyataan yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.

Tindak kekerasan –walaupun atas nama agama— dinyatakan oleh siapapun dan dimana pun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden, penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan penuli dan Rabai yang menyatakan "berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi, menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak berdosa".

Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudh untuk memeriksa rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudh meminta kata-kata "tidak berdosa" diubah menjadi "tidak bersalah".

Mengapa demikian? Karena, yang menentukan seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia. Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut, juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Ketika tiba di Tel Aviv, penulis bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media massa. Ini menunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia –bahkan menurut statistic sebagai organisasi Islam terbesar di dunia- menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai "tindak kejahatan/ kriminal" yang harus dihukum.

Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum, karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bima qa shidiha), maka kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi. Menurutnya, "hokum barat" dapat dijadikan "hukum Islam", jika memiliki tujuan yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hokum pidana barat, karena sama berfungsi dan bertujuan menahan (defences) dan menghukum (punishment).

Namun, mengapa terorisme dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan oleh sebagian kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan tindakan-tindakan tersebut , jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.

Apa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam. Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci Al Quran dan ajaran nabi Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.

Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu, bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap langkah-langkah yang salah, atau mencari "responsi yang benar" atas tantangan berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru (re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah "agama kedamaian" bukannya "agama kekerasan". Proses sejarah Islam di kawasan ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih juga terjadi tindak kekerasan –atas nama Islam— yang tidak diharapkan. Mudah dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan?

Jakarta, 31 Desember 2002